Februari 2011


Selasa, 1 Februari 2011 12:17 Jakarta, NU Online
Ketua PP LP Maarif NU Prof Dr Mansyur Ramly menyatakan upaya standarisasi mutu pendidikan di lingkungan Maarif NU harus lebih tinggi daripada standar yang ditetapkan oleh Standar Nasional Pendidikan (SNP).

“Kita harus mampu melebihi standar minimal yang ditentukan oleh BNSP karena kalau sama, hanya akan jadi follower dan kalah bersaing,” katanya dalam Workshop Penjaminan Mutu Pendidikan Maarif NU di Jakarta, Selasa (1/2).

Delapan standar yang ditentukan oleh BNSP meliputi standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, kepengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.

Beberapa keunggulan yang bisa dikembangkan oleh sekolah Maarif NU diantaranya meliputi keunggulan bahasa, ketrampilan dan menumbuhkan daya kembang bagi para siswa.

Ia menjelaskan, nilai lebih bahasa asing yang dimiliki siswa akan membuka akses mereka pada dunia luar yang lebih luas. Ia mencontohkan, lembaga pendidikan Akademi Keperawatan yang dibinanya di Sulawesi Barat menambah materi bahasa Arab dan Inggris. Kini sebagian besar lulusannya bisa bekerja di rumah sakit di Timur Tengah.

“Kita harus mampu menggantikan supply tenaga kerja yang berasal dari Filipina karena kita memiliki hubungan emosional dengan mereka,” katanya.

Nilai tambah lain yang harus dimiliki oleh siswa dari Maarif NU adalah memiliki keahlian dalam bidang tertentu sehingga saat lulus, langsung bisa diserap di dunia kerja. Untuk itu, sangat dianjurkan untuk menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga yang memberikan sertifikasi keahlian.

Soft skill yang mencerminkan integritas pribadi siswa seperti kejujuran, moralitas dan lainnya juga menjadi nilai tambah yang sangat penting. Ia menuturkan berdasarkan penelitian di AS, tahun 2004, yang paling diinginkan masyarakat terhadap lulusannya adalah kemampuan iptek, tetapi survey yang sama yang dilakukan pada tahun 2009 menunjukkan perubahan orientasi pada harapan masyarakat atas kemampuan soft skill sebagai pilihan pertama.

Selanjutnya, para siswa juga harus memiliki jiwa kewirausahaan, kemandirian dan yang paling penting daya kembang. Kalau tidak memiliki daya kembang dan hanya mengandalkan pengetahuan yang dari sekolah, hanya akan jadi pengikut.
“Daya kembang dan motivasi mendorong orang untuk meningkatkan prestasinya diri sendiri dan siap menghadapi tantangan baru yang selalu muncul,” katanya.

Saat ini, proses pemenuhan standar yang akan digunakanlah yang harus dijalankan sampai akhirnya sekolah-sekolah Maarif NU bisa memenuhinya. Salah satu strateginya adalah dengan membentuk sejumlah sekolah percontohan yang bisa menjadi acuan sekolah lain. (mkf)

Selasa, 1 Februari 2011 15:30 Jakarta, NU Online
Pada 2030, Pakistan akan menggeser Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar. Ini adalah hasil riset terbaru dari The Pew Forum on Religion and Public Life. Penelitian berjudul “Masa Depan Populasi Muslim Global” ini melihat kecenderungan pertumbuhan penduduk Pakistan yang lebih pesat dibandingkan Indonesia.

Pada 2010, Pakistan yang 96 persen penduduknya beragama Islam diperkirakan memiliki 178 juta warga muslim. Sedangkan penduduk muslim Indonesia yang mencapai 88 persen dari seluruh penduduk Indonesia saat ini yaitu 230 juta jumlahnya hampir 205 juta orang.

Pada 2030, Pakistan diperkirakan memiliki 256 juta penduduk muslim, sedangkan Indonesia sekitar 239 juta jiwa. Kemudian, pada tahun yang sama, jumlah orang Islam di seluruh dunia mencapai 2,2 miliar jiwa dan merupakan 26,4 persen dari penduduk dunia.

Angka itu naik dari 1,6 miliar jiwa pada 2010. Penelitian ini juga memperkirakan selama 20 tahun ke depan jumlah penduduk beragama Islam terus bertambah walaupun laju pertumbuhan menurun, dari 2,2 persen pada 1990-2010 menjadi 1,5 persen.

Melambatnya laju pertumbuhan umat Islam itu, menurut laporan tersebut, disebabkan penurunan angka kelahiran. Terutama karena semakin banyak perempuan muslim yang berpendidikan, meningkatnya standar hidup, dan urbanisasi.

Sejauh itu pada tahun 2030, sebagaimana diberitakan AP dan AFP pada Kamis (27/1/2011) lalu, sekitar 60 persen umat Islam dunia diperkirakan berada di kawasan Asia-Pasifik, 20 persen di Timur Tengah, 17,6 persen di Afrika Sub-Sahara, 2,7 persen di Eropa, dan 0,5 persen di Benua Amerika.(amf/kcm)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.