Pelajar NU Lamongan On Line !

Sambeng, 5 Ramadlan 1432 H. / 5 Agustus 2011 M.

Perjalanan menuju tempat pertemuan putra – putri NU di Desa Kreteranggong yang masuk wilayah kecamatan Sambeng Lamongan memang terbilang unik. Untuk sampai pada desa tersebut, Rekan – rekanita dari Pimpinan Cabang IPNU – IPPNU Lamongan harus masuk ke wilayah Kabupaten Mojokerto. Dapat dibayangkan betapa jauhnya tempat tersebut dari pusat kota Lamongan. Perjalanan masih dilanjutkan menapaki jalan makadam yang tidak bisa dilalui dengan cepat. Bahkan harus melalui bekas jalan yang diuruk akibat terputus akibat terjangan banjir sungai Lamong.

Tim yang diterjunkan langsung dari Pimpinan Cabang IPNU – IPPNU Lamongan dan Pimpinan Anak Cabang IPNU – IPPNU Sambeng menyambangi Dusun Ranggong yang ditujuk sebagai tempat pertemuan putra – putri NU dari 8 (delapan) Dusun yang ada di Desa Kreteranggon. Tepatnya di Masjid Dusun setempat diadakan pertemuan untuk sharing dan diskusi pengembangan organisasi IPNU – IPPNU. Sejauh ini IPNU – IPPNU belum masuk sebagai wadah organisasi bagi pelajar dan santri di kawasan terbut.

Agenda pertemuan ini berjalan dengan sukses berkat program Bhakti Ramadlan yang dilaksanakan Pimpinan Cabang IPNU – IPPNU Lamongan yang bekerjasama dengan Pimpinan Cabang LDNU Lamongan. Salah satu program yang telah dicapai adalah masuk ranah pelajar dan santri didesa setempat untuk mendirikan IPNU – IPPNU dan diharapkan IPNU – IPPNU sebagai wadah berkarya dan berorganisasi.

Dalam forum pertemuan yang diadakan pada Jum’at (5/8) bakda Shalat Tarawih dihadiri lebih dari 60 (enam puluh) kader muda NU setempat. Kegiatan yang dikemas dalam forum diskusi dan sharing ini diawali dengan pembacaaan dziba’ dan shalawat dari kader-kader IPNU – IPPNU yang mengikutiprogram da’i ramadlan. Dilanjutkan dengan opening ceremony dan sambutan dari Pengurus Ranting NU setempat yang disampaiakn oleh Bapak Rofi’i dan sambutan dari Pimpinan Cabang IPNU  - IPPNU Lamongan yang disampaikan oleh Rekan Akhmad Fauzun Adzim.

Dilanjutkan dengan kegiatan diskusi dan sharing tentang IPNu – IPPNU yang dipandu oleh rekan Suyanto dan Rekan Khusaini sebagai Notulis. Antusiasme kader-kader Muda NU Desa Kretaranggon sangat nampak. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan dan masukan dalam diskusi yang berjalan ganyeng tersebut. Antusiasme juga terlihat dari para hadlirin untuk segera membentuk organisasi IPNU – IPPNU sebagai wadah untuk mengembangkan potensi para anggota.

“Apa manfaat bergabung di organisasi IPNU – IPPNU?” tanya rekanita Widji peserta diskusi mengawali dibukanya tanya jawab. Ada juga dari peserta yang lain berntanya tentang tujuan dan visi dari berIPNU-IPPNU. Bahkan ada yang bertanya mengenai perbedaan Aswaja yang diamalkan oleh Nahdlatul Ulama dibandingkan dengan yang lain.

Al-hasil, pertemuan diakhir dengan menyapakati akan mengadakan pertemuan mingguan yang diisi dengan program amaliyah Nhdlatul Ulama seperti Dziba’an. Dan khusus untuk minggu depan akan diagendakan pendirian Oragnisasi IPNU – IPPNU di Desa Kreteranggon.

Afa.com

Pelajarnulamongan Online.

Pembekalan Da’i Bhakti Ramdlan 1432 H. adalah sebuah kegiatan yang digagas dan dilaksanakan oleh rekan-rekanita Pengurus Pimpinan Cabang IPNU – IPPNU Lamongan bekerjasama dengan Pimpinan Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Lamongan. Kegiatan ini bertujuan untuk mensyi’arkan ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah kepada masyarakat yang dinilai masih perlu mendapatkan pendalaman materi. Selain juga bertujuan untuk menanmkan solidaritas berorganisasi sebagai kebutuhan dalam hidup bermasyarakat terutama bagi kaum pelajar dan putra-putri NU dengan mendirikan organisasi IPNU – IPPNU.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam kurun waktu empat hari ini dimulai sejak senin tanggal 25 Juli 2011 dan berkahir pada kamis dini hari (28/06/2011). Adapun tempat kegiatan yang digunakan untuk membekali para da’i bertempat di Lembaga Pendidikan MA Ma’rif 22 Darul Ulum Desa Wudi Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan.

“Bagi Kami panitia, kegiatan ini merupakan kali pertama di Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Lamongan, namun karena kebutuhan dan baiknya tujuan yang hendak dicapai maka kegiatan ini kami laksanakan dengan persiapan yang matang” ujar SYarif selaku ketua panitia.

Rangkaian kegiatan pembekalan selain dilaksanakan selama empat hari, maka para peserta akan diterjunkan langsung ditengah-tengah masyarakat yang telah ditentukan oleh panitia. Kegiatan yang mirip dengan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kampus-kampus ini berlangsung  selama 27 hari kerja, dimulai sejak malam pertama bulan ramadlan hingga hari ke-27 di bulan yang sama.

Untuk membekali para da’i yang diterjunkan tersebut, maka panitia mempersiapkan dengan optimal. Hal ini terbukti dari rangkaian materi yang disampaikan juga para narasumber yang mempunyai latar belakang yang beragam. Mulai dari Bapak KH. Abdul Wahib (Kepala Kesbangpol & Linmas Lamongan) dengan materi public speaking, Bapak Syariban, M.Pd (Dosen UNESA Surabaya dan UNISDA Lamongan) dengan materi Psikologi Massa, Bapak H. Na’im, M.Ag. (Tokoh Masyarakat Lamongan Selatan) dengan materi Analisis Medan, Bapak Khoirul Huda (Ketua PC GP. ANSOR Lamongan & Ketua KPUD Lamongan) dengan materi Strategi pendirian organisasi, Bapak KH, Syamsul Anam, M.Pd. (Katib SYuriah PCNU Lamongan & Dosen) dengan materi Caracter Building, dan materi penunjang lain yang dikemas dan dibawakan oleh para fasilitator Pimpinan Cabang IPNU – IPPNU Lamongan.

Setelah beristirahat kurang lebih dua hari. Para peserta Bhakti Ramadlan (para Da’i) diberangkatkan ke daerah perjuangan mereka. Dibagi kedalam tiga group/kelompok dengan jumlah yang berbeda hal ini disesuaikan dengan kondisi medan dan latar masyarakat.

Tempat yang menjadi tujuan syi’sr adalah di Desa Kreteranggon Kecamatan Sambeng, Desa Katemas dan Desa Gintungan yang keduanya di Kecamatan Kembangbahu. Adapun jumlah da’i yang diberangkatkan sebanyak 25 da’i. semoga sukses rekan dan rekanita dalam mengemban amanat yang mulia ini. Amin.

AFa.com

Pucuk, 4 Agustus 2011

Bertempat di Kantor MWC NU Pucuk Lamongan, Rekan-Rekanita Pengurus Pimpinan Anak Cabang IPNU – IPPNU Pucuk Lamongan dan anggota IPNU – IPPNU se-Kecamatan Pucuk melaksanakan kegiatan Ngaji Bareng Menjelang Buka Bersama.

Kegiatan yang dilaksanakan pada kamis (04/07) menjelang berbuka ini rencananya akan dilaksanakan setiap pekan sekali pada kamis sore. Adapun materi yang disampaikan adalah seputar puasa dan pernik-pernik amalan ibadah di bulan ramadlan. Pemateri langsung diberikan oleh Rais SYuriah MWC NU Pucuk Bapak KH. Muslikh Mukhtar.

“Kegiatan ini sebagai wujud syi’ar dan menambah wawasan keagamaan bagi rakan-rekanita pengurus dan anggota IPNU – IPPNU di Kecamatan Pucuk” ucap Yahya Sabrawi selaku ketua PAC. IPNU Pucuk. Selesai kegiatan pengajian, dilanjutkan dengan buka bareng yang diikuti oleh seluruh peserta dan hadirin yang mengikuti pengajian.

Kegiatan ini juga diawali khotmil qur’an yang dimulai bakda dluhur secara berjama’ah oleh kader-kader IPNU – IPPNU di Kecamatan Pucuk ini.

Afa.com

“Bu, pokoknya besok aku harus didaftarkan mondok” kata seorang anak kepada ibunya. Sang ibu terkejut seraya berkata, “Lho??? Nak, mondok itu harus dipersiapkan segala kelengkapan dan kebutuhannya”. Dengan nada sedikit ngototsang anak berkata, “Pokoknya besok aku harus sudah dimondokkan, aku kemarin sudah mendaftar sekolah formal di sana, beberapa persyaratan pendaftaran pun sudah kulengkapi, tinggal mondoknya belum” jawab sang anak.

Inilah sekelumit perbincangan yang terjadi antara salah seorang keponakan saya dengan ibunya yang tidak lain adalah kakak perempuan saya. Kakak saya begitu terkejut dan heran dengan desakan dari putra keduanya yang tiba-tiba meminta untuk segera dimondokkan di sebuah pesantren di Pasuruan.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa harus pesantren jadi tempat belajar??? Dalam tulisan singkat ini akan dipaparkan sekelumit tentang pesantren dan pilar-pilar yang membangunnya, dan gambaran proses pembelajaran yang terjadi di dalamnya, serta kelebihan-kelebihan yang ada dalam pembelajaran tersebut.

Pilar-pilar Pesantren dan Proses Pembelajaran didalamnya

Secara istilah pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dimana para santri biasa tinggal di pondok (asrama) dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum bertujuan untuk menguasai ilmu agama Islam secara detail serta mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian dengan menekankan pada aspek moral dalam kehidupan bermasyarakat. (Fenomena, 2005:72)

Setidak-tidaknya ada beberapa aspek yang membangun sebuah pesantren sebagaimana dipaparkan oleh Gus Dur dalam bukunya Pesantren Masa Depan, yaitu kyai, santri dan masjid. Dalam pendapat lain disebutkan, ada lima unsur yang membangun pesantren, yaitu kyai, santri, masjid, pondokan dan kitab kuning. Kyai, sebagai pimpinan pesantren.

Kyai tidak hanya menjadi sumber pengetahuan yang ditimba oleh para santri. Akan tetapi, lebih dari itu seorang kyai juga menjadi panutan teladan (uswah hasanah) bagi para santri dan masyarakat. Bahkan, kyai juga menjadi orang tua kedua bagi para santri, yang dalam bahasa pesantrennya lebih umum dikenal sebagai abu ar-ruuh (bapak ruhani) yang selalu menjadi motivasi dan spirit bagi santri untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan dan meningkatkan kemampuan diri, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Di samping itu, satu hal lagi yang tidak kalah penting dari seorang kyai, yaitu kekuatan do’a. Jika kyai dianalogikan sebagai orang tua kedua (abu ar-ruuh), maka sudah pasti do’a seorang kyai untuk santrinya akan dikabulkan oleh Allah swt. Karena do’a orang tua untuk anaknya, bagaikan do’a seorang nabi untuk umatnya. Apalagi seorang kyai – dalam pandangan umum – adalah orang yang dekat dengan Allah swt. tentunya do’anya mudah untuk dikabulkan oleh-Nya.

Santri, sebagai penerima transformasi keilmuan dari kyai. Santri menjadi subyek penggodokan karakter dan life skill kyai dan pesantrennya yang kelak ketika kembali ke masyarakat juga akan menjadi transformer pengetahuan baik praksis maupun teoritis, sekaligus sebagai agent of change.

Secara umum, santri terbagi menjadi dua; santri kalong dan santri biasa. Jika santri biasa adalah santri yang tinggal di bilik-bilik pesantren, maka santri kalong adalah santri yang berangkat dari rumah ke pesantren untuk mengikuti rutinitas pendidikan dan pulang ke rumahnya setelah rutinitas pendidikan tersebut selesai.

Masjid dalam pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah akan tetapi juga sebagai pusat transformasi pengetahuan. Hal ini bisa dilihat pada masa Nabi saw. bagaimana beliau memposisikan masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja.

Berbagai kegiatan kepesantrenan seringkali dipusatkan di masjid. Sebagai contohmuhadhoroh (pidato, ceramah), jam’iyah diba’iyah, halaqoh (kelompok belajar),syawir (musyawarah, diskusi), dan berbagai kegiatan kepesantrenan lainnya.

Pondokan sebagai salah satu unsur pesantren merupakan sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat tinggal para santri yang menetap untuk waktu yang lama. Dalam pondokan interaksi sosial yang begitu akrab terjadi setiap hari secara inten.

Rasa kebersamaan, persaudaraan, kekeluargaan begitu kuat, yang sangat terasa mulai dari kegiatan sholat, pengajian, belajar, sekolah, masak, makan. Sehingga untuk membangun sebuah persahabatan yang sangat erat, seakan-akan hanyalah pesantren tempatnya. Rasa kebersamaan, persaudaraan dan kekeluargaan ini yang menjadikan banyak para santri seakan terlupa bahwa mereka jauh dari kampung halaman, orang tua dan keluarga, bahkan karena suasana ini pula yang menjadikan mereka betah berlama-lama belajar di pesantren.

Literatur-literatur klasik di pesantren memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan keilmuan dan pengetahuan para santri. Sebagaimana di dalam pesantren sendiri diajarkan berbagai bidang keilmuan dari karya-karya para pemikir klasik seperti, tauhid dan tasawuf, fiqh (berikut yurisprudensinya), bahasa dan sastra (nahwu, sharaf, balaghah, ilmu ‘arudh dan qowafi), filsafat logika (mantiq), dan lain sebagainya. Para santri juga mendapatkan pendidikan akhlak (etika) tidak hanya dari berbagai literatur klasik tersebut, melainkan juga aktualisasi langsung dari sang kyai.

Secara umum, model pembelajaran di pesantren salaf (klasik) terbagi menjadi dua; model tarbiyah dan non tarbiyah. Model tarbiyah adalah model sekolah (dengan tingkat formalitas yang berbeda karena rasa kebersamaan, kekeluargaan dan persaudaraan masih kental), sedangkan model non tarbiyah adalah model pengajian. Dalam model non tarbiyah atau pengajian terbagi lagi menjadi dua model, yaitu model bandongan dan sorogan.

Dalam model bandongan seorang santri senior membacakan dan menerangkan sebuah kitab utama sementara santri-santri yunior menyimak dan ngesahi (memaknai ala pesantren) kata perkata dari kalimat-kalimat yang ada di dalam kitab tersebut. Sedangkan model sorogan seorang santri senior menyimak bacaan santri yunior satu-persatu yang membacakan sebuah kitab di hadapannya.

Dari kedua model di atas, ada pula model pembelajaran yang merupakan gabungan dari 2 model tersebut. Hal ini tampak dalam bentuk kelompok-kelompok belajar (halaqoh) yang dipimpin oleh beberapa orang santri senior.

Model pembelajaran yang diterapkan di pesantren selalu menitikberatkan pada bagaimana santri selalu berupaya untuk secara pro-aktif dan mandiri dalam mengembangkan bidang keilmuan yang dipelajari, atau bisa dikatakan model cara belajar siswa aktif (CBSA). Hal ini sangat tampak pada model sorogan, yakni santri berupaya untuk sebisa mungkin membaca dengan tepat kata perkata, dan memahami kandungan pengetahuan yang ada dalam sebuah kitab yang sedang dipelajarinya, yang selanjutnya hasil usaha pembelajaran mandirinya tersebut dibacakan di hadapan seorang santri senior untuk dikoreksi.

Kelebihan Pembelajaran di Pesantren

Setelah dipaparkan tentang pilar-pilar pesantren dan proses pembelajaran di dalamnya, berikut ini akan dipaparkan beberapa kelebihan pembelajaran di pesantren:

1. Ilmiah-alamiah atau alamiah-ilmiah

Yang dimaksud proses pembelajaran ilmiah-alamiah atau ilmiah-alamiah di sini adalah pembelajaran yang berlangsung di pesantren selalu didasarkan pada teks-teks kitab klasik (baca: kutub turotsiyah, kitab kuning) yang dilaksanakan dalam suasana yang bernuansa tradisional dan penuh rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Sebagai contoh metode hapalan, dalam metode ini santri sebisa mungkin berupaya untuk menghapalkan kata-kata yang tertera dalam sebuah kitab nadzom (bait-bait sajak) yang didalamnya memuat pokok-pokok pengetahuan yang dapat digunakan sebagai acuan atau rujukan ilmiah. Demikian halnya dengan proses kegiatan belajar mengajar. Pengajian dapat dilaksanakan di kamar-kamar santri, serambi masjid, kadang menggunakan bangku kecil dengan duduk bersila. Bahkan ketika lalaran (membaca bersama secara klasikal sebuah kitab nadzom) tidak jarang dilakukan di depan halaman kelas atau kamar. Esensi dari proses pembelajaran ini adalah proses pembelajaran dengan suasana penuh rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang bertujuan untuk membentuk karakter-karakter ilmiah yang dibentuk secara alamiah.

2. Simultan dan inten

Jika sekarang banyak ditemui sekolah-sekolah dengan label full day school, maka barangkali pesantren adalah lembaga pertama yang menggunakan model pendidikan ini. Proses pembelajaran dimulai dari bangun tidur menjelang subuh, hingga akan tidur lagi, semua dilaksanakan secara simultan dan inten.

3. Active Self Learning (at-Ta’allum adz-Dzaati al-Fa‘-‘aal)

Sebagaimana dipaparkan di atas, modal inilah yang menjadi unggulan pesantren dalam mendidik kader-kader intelektual yang mandiri, kreatif, inofatif, kompeten dan memiliki derajat intelektual yang mumpuni. Santri selalu dididik untuk secara mandiri membangun karakter pribadi dan keilmuannya, tentunya dalam kontrol sang kyai.

4. Lingkungan yang agamis

Salah satu keunggulan pendidikan pesantren adalah lingkungan yang agamis. Hal ini sudah tidak diragukan lagi, karena bagaimanapun pesantren adalah bengkel pembangunan karakter yang agamis, bukan hegemonis. Pendidikan di pesantren selalu mengedepankan unsur-unsur nilai dan sikap, seperti ikhlas, tawadhu’, ikhtiar, tawakkal, dan nilai-nilai positif lainnya, yang kesemua unsur-unsur ini secara aplikatif diteladankan oleh kyai. Dari gambaran umum di atas yang tentunya belum mewakili seluruh kelebihan pesantren, kiranya belajar di pesantren bukan hal yang menakutkan lagi. Dan kiranya pertanyaan “Mondok apa nggak ya???” kelak akan dijawab “Why not??? ”. Wallahu a’lam By:HSR

Brebes, NU Online
Aktivis Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Brebes Akrom Jangka Daosat MA pada awal puasa Ramadhan ini meluncurkan antologi cerpen religi. Dalam kumpulan cerpen dengan judul Lelaki Bersayap Malaikat itu mengunakan nama samaran Daosat Ba’labak MA. Dia berdalih tidak ingin mempopulerkan nama dirinya ke publik sehingga menggunakan nama samaran.

Daosat hanya ingin menyampaikan dakwah, sebagai renungan terhadap ayat-ayat Tuhan terutama kauniyah Tuhan. Seperti dalam cerpennya Biarlah lelaki bersayap malaikat itu tetap di kuil, berdoa pada Sang Pencipta. Dia hanya seorang pendosa yang ingin bertaubat, dia bukan siapa-siapa misteri. Masturun fil Ardi. Biar dia menemani Sang Dewi yang tengah terbaring menahan sakit.

Ditemui di ruang Humas dan Protokol Setda Kabupaten Brebes, Daosat yang juga pegawai Kementerian Agama Kabupaten Brebes tidak mau menceritakan banyak soal penerbitan karyanya itu. “Ada orang yang berbaik hati menerbitkan karya saya ini, karena katanya bagus dan menyentuh hati,” ujar Daosat saat ditemui NU Online di ruang Humas dan Setda Kab Brebes Senin (1/7).

Antologi Cerpen terbitan Pesantren Tahfidzul Quran (PTQ) Al-Rohmah Pruwatan Bumiayu Brebes itu dicetak Juli 2011 setebal 80 halaman + (ix) halaman muka. Dalam antologi ini memuat 7 judul, yakni Lelaki Bersayap Malaikat, Cinta Yang Hilang, Seorang Pemberontak, Tragedi Kampanye, Tangisan Perempuan Tua, Dewi Kebisuan dan Jalan Pulang.

Dalam Lelaki Bersayap Malaikat, Daosat antara lain menceritakan begitu banyak orang baik yang menjadi korban keganasan hidup yang tidak adil. Kehidupan yang sendau gurau dan menipu. Hidup yang diukur dengan materi dan status sosial. Namun dia yakin, tetap ada pribadi-pribadi yang mau berkorban dengan ikhlas meski ancaman mengganas.

“Karena pada dasarnya, semua orang akan menjadi jenazah, saat kita tiada daya, terbang dalam kereta manusia, kita hanya seonggok daging, yang diincar anjing,” demikian ungkapan puisi yang diselipkan pada akhir buku ini.

Daosat Ba’labak MA sudah malang melintang dalam dunia penulisan. Antara lain karya ilmiah populernya pernah diterbitkan di Republika, Suara Merdeka, Majalah Rindang, Radar Tegal, Tabloid Sketsa dan Jurnal Kampus.

Kumpulan cerpen ini merupakan buku keempat. Sebelumnya dia menulis antologi cerpen Sayap-sayap Pengembara yang diterbitkan Fajar Pustaka Jogya (2002), Humor Ala Pesantren yang dimuat secara berkala di Majalah Rindang  Semarang (2004) dan buku Tuhan Tampak Ibu (tidak memakai tahun)

Daosat adalah alumni Pesantren Tahfidzul Quran Al Rohmah Bumiayu Brebes. Dia melanjutkan S1 dan S2 nya di IAIN Walisongo Semarang. Daosat selain sebagai PNS di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes juga aktif mengajar sebagai dosen Sejarah Peradaban Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Brebes.

Budayawan Brebes Tegal Slawi (Bregas) Drs Atmo Tan Sidik mengaku apresiatif terhadap karya seorang santri yang moderat. Menurutnya, Lelaki Bersayap Malaikat diterbitkan pada moment yang tepat. Dimana religius tengah menjadi kajian dan ujian umat Islam di kala Ramadhan.

Atmo menilai, pesan moral tidak selamanya disampaikan dengan logika tetapi juga bisa digiring dengan estetika. “Daosat menangkap itu, dan disampaikan lewat kumpulan cerpennya,” pujinya.

Redaktur: Mukafi Niam
Kontributor: Wasdiun

Jakarta, NU Online
Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama (Kemenag) A. Saifuddin mengatakan, prestasi siswa madrasah pada Ujian Nasional (UN) tahun 2011 secara nasional mengalami peningkatan secara signifikan. Bahkan prestasi UN Madrasah Tsanawiyah (MTs) baik negeri maupun swasta melampaui target yang diharapkan.

“Prestasi UN jauh meningkat, melebihi target,” kata Saifuddin kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/6). Hasil kelulusan Madrasah Tsanawiyah ditargetkan 97 persen, ternyata 99 persen siswa madrasah yang lulus.

“Dari jumlah 189.668 peserta UN MTs Negeri, hanya 656 siswa atau 0,346 persen yang tidak lulus. Sedangkan 575.265 peserta UN MTs Swasta, yang tidak lulus 1808 peserta atau 0,32 persen,” jelas Saifuddin.

Ditanya pemicu peningkatan prestasi tersebut, Saifuddin mengatakan, hasil yang dicapai ini berkat kerjasama semua pihak untuk mengoptimalisasi prestasi madrasah. “Kita genjot, optimalisasi mdrasah, sekarang kita memetik buahnya,” ujarnya.

Prestasi madrasah yang juga membanggakan, lanjut dia, seperti yang dicapai MTsN Model Padang. Madrasah ini meraih penghargaan lingkungan hidup Adiwiyata Nasional 2011 dari Kementerian Lingkungan Hidup. “Ini juga prestasi yang membanggakan. Kalau sebelumnya madrasah dipandang satu mata kini tidak,” pungkasnya.

Redaktur : A. Khoirul Anam
Sumber   : Kementerian Agama RI

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.